Balada Mulder & Scully

By: Iwan

“Tuh, tuh agen-agen X-Files pada lewat,” anak-anak cewek yang lagi pada nongkrong di kelas bisik-bisik kenceng. Yee, kalo kenceng sih tereak namanya, bukan bisik-bisik. Anak-anak yang lagi bikin contekan PR kimia sontak pada berebut looking through the windows. Ngintip di jendela.

Di luar jendela tersebutlah dua anak manusia yang sedang berjalan marathon, eh santai. Seorang akhwat berkerudung rapi dan berjilbab, seorang lagi ikhwan dengan secuil jenggotnya hinggap di dagu (kupu-kupu kaliii…). Yang ikhwan jalan di depan sementara akhwatnya menyusul di belakang. Berjalan dengan cool.

“Iih, ngegemesin banget deh. Masak jalannya kagak gandengan tangan.”

“Iyeh, sok cuek. Murder en Scully banget sih,” timpal yang lain. Sekejap saja kelas udah riuh rendah dengan celotehan anak-anak, persis tukang dagang di pasar Tanah Abang. Kasih komentar pada pasangan yang baru aja lewat. But, berhubung jam pelajaran udah mepet acara ngerumpi nggak berkepanjangan. Mereka kembali rame-rame nyontek PR kimia dengan rajinnya (idiih nyontek kok disebut rajin!).

Siapa gerangan pasangan ?serasi’ yang mengundang sensasi tadi? Yang cewek alias akhwatnya adalah Dewina Ariani, killer queen-nya anak-anak IPA-1. Akrab dipanggil Wina, cute dan mirip Katie Holmes dengan perawakan mirip Britney Spears, tapi nggak ada satupun kumbang jantan yang berani macem-macem sama dia. Bukan karena do’i suka menggigit, juga bukan lantaran bapaknya preman. Bukan, itu sama sekali nggak bener. Tapi karena Dewi ini kampiun pelajaran-pelajaran eksakta macem kimia, matematika dan fisika, meski lemah di bahasa Inggris. Waktu ikut ujian kemarin skor TOEFL-nya cuma mencapai 5000 (eh itu kecil apa gede sih?). Dengan modal kayak begitu cowok-cowok SMU SERAM (kependekkan dari Sejahtera Ramah Makmur) segera saja ngeper. Maklum, cowok-cowok SMU SERAM kebanyakan hanya modal tongkrongan doang tapi otak mereka cuma segede kacang. Emang sih mereka kebanyakan tajir-tajir. Tapi hanya sedikit yang punya pikiran waras.

Ada Jojo anak pejabat yang tiap hari ke sekolah naik Harley Davidson karena mengidolakan Renegade (nggak tahu tuh, Renegade apa Mandragade). Saking seringnya naik motor ada nenek-nenek yang nanya, “Nak, kalau sampe ke pasar di ujung jalan ongkosnya berapa?” Terang aja doi melengos disangka tukang ojek. Meski disangka tukang ojeg, tapi do’i termasuk anak yang rajin cari gebetan. Sayangnya (atau untungnya ya?) hampir setiap cewek yang jadian sama Jojo pada nggak tahan lebih dari sebulan. Alasannya hampir sama; sering masuk angin. Abis kencannya naik motor terus.

Mengkeretnya cowok-cowok itu semakin bertambah semenjak Wina memproklamirkan diri ogah menampakkan kecantikkan dan keindahan dirinya. Ya, doi memutuskan untuk berkerudung dan berjilbab begitu naik kelas II. Terang aja keputusan ini sempat diprotes oleh sebagin cowok penghuni SMU tersebut. “Itu namanya tidak adil, melanggar hak asasi manusia. Sejak kapan ada aturan yang melarang orang lain menikmati keindahan seorang wanita!” teriak Ruud Van Mouten, pimpinan kelompok Paparazi, ekskul sekolah di bidang fotografi. Tapi Wina dengan cuek mengenakan jilbabnya. Anjing menggonggong, kafilah tunggang langgang.

Tapi sebagian cowok-cowok SMU SERAM tetap bersemangat untuk merebut Wina. Erik, misalkan, jejaka Indo-Inggris yang bapaknya bandar kodok mancanegara ini sebenarnya naksir berat ama Wina sejak kelas satu. Jaman Wina belum pake busana gurun Sahara, istilah Erik. Terang aja cowok yang sejak TK playboyan ini jelalatan liat akhwat seaduhai Wina.

“Eh, kayaknya kita pernah ketemu ya?” Erik sok akrab sambil pasang senyuman maut ala Close Up. Anjing bulldog aja keder, apalagi cewek, pikir Erik. ?Wina diem aja ditanya cowok kayak Erik. Ia ingat ibunya pernah kasih nasihat never talk to stranger especially who has no head (hiii…!).

Ngerasa pertanyaannya nggak direspon. Erik makin penasaran.

“Kamu kan yang main bareng James Van Der Beek, atau jangan-jangan yang nyanyi lagu Baby Hit Me One More Time ya?”

Wina tetep nggak ngerespon.

“Halo, are you still there?” Erik makin gemes. Wina ngelirik ke Erik sambil tersenyum. Aih, aih ngeliat senyuman yang ada lesung pipinya kayak Katie Holmes, kontan aja Erik blingsatan.

“Kamu yang punya Cherokee item,ya?” tanya Wina kalem.

“Iya, emangnya kenapa? Pulangnya mau saya anter pulang, atau mau maen dulu ke rumah saya di Menteng?” Erik jadi makin bernafsu. Wina menggelengkan kepala.

“Itu mobil kamu kesenggol truk sampah,” kata Wina sambil nunjuk ke pinggir jalan. Erik ngeliat ke tempat parkir mobilnya. Kontan lemes menyaksikan bagian belakang mobilnya penyok berat, sementara truk sampahnya udah melenggang tanpa dosa entah ke mana.

Sejak berjumpa dengan Wina, Erik jadi makin giat berangkat ke sekolah. Bela-belain bangun subuh supaya bisa datang pagi-pagi ke sekolah. Penjaga sekolah aja sampe takjub ngeliat ada anak sekolah yang datang pagi-pagi buta. Pintu gerbang belum kebuka Erik udah nongkrong di depan gerbang. Sampe disangka sama penjaga kalau ia adalah partnernya dalam urusan bersihin wc sekolah hi…hi…hi.

Tapi Erik mulai ngeper setelah ia tahu Wina ternyata jawara di kelas. Ulangannya nggak pernah ada yang di bawah delapan, semuanya sembilan atau sepuluh. Sementara Erik? Dapat enam aja harus keringat dingin dua ember ditambah garuk-garuk kepala ampe lecet. Apalagi ia pernah dipermalukan kawan-kawannya di depan kelas.

“Coba siapa yang masih ingat ilmuwan penemu gaya tarik bumi?” tanya Pak Ahmad guru Fisika nan berwibawa.” Anak-anak diem, termasuk Wina. Erik yang lagi nyari muka langsung mengacungkan kaki, eh tangannya.

“Ya, kamu Erik!” kata Pak Ahmad ? nggak percaya.

“Sir Isaac Nasution, Pak!” jawab Erik gagah. Gerr, tawa anak-anak kontan meledak nggak tertahankan. Erik sendiri celingak-celinguk nggak paham.

ooOoo

Sementara itu, yang cowok bernama Tubagus Zainal. Bapak asli Banten, ibu asal Bandung. Besar dan dididik di pesantren. Makanya do’i tampil cool alias tawadlu. Nggak sombong apalagi norak ngeliat anak-anak Jakarta dengan gaya dugemnya, meski doi di kampung terbilang kaya raya. Sawahnya hektaran, belum lagi peternakan bebeknya yang bejibun. Waktu anak-anak baru pada masuk ke SMU SERAM dengan diantar kendaraan pribadi lengkap dengan supir pribadinya, Zainal cukup naik mikrolet bareng abi dan uminya. Begitu masuk sekolah pake acara pamitan lengkap dengan paket cium tangan dulu ama abi dan uminya.

Beda dengan anak lain yang duduk di kelas pengen satu bangku dengan cewek, Zainal lebih milih duduk Stephane Dalmat yang keling alias kulitnya item, tapi keturunan Prancis. Anak-anak lain mana mau duduk bareng Dalmat. Takut luntur kata mereka. Tapi Zainal pengen ngebuktiin kalau yang kulit item sama yang putih nggak ada bedanya, cuma takwa aja bedanya. Terbukti, ternyata Dalmat meski kulitnya item tapi jago matematika (idih apa hubungannya?).

Mulanya Zainal di-underestimate-kan oleh cowok-cowok lain. Apalagi doi nggak pernah nenteng ponsel. Padahal anak-anak di kelasnya rata-rata pada bawa ponsel, malah ada yang nekat bawa wireless dari rumahnya, untung aja nggak ada yang bawa telepon koin sekalian. Selera musiknya juga nggak ketahuan; alternatif, hip hop, pop progresif atau rock. Waktu ada pembagian tiket gratis nonton konser Bond, Zainal menolak dengan halus. Anak-anak jadi curiga jangan-jangan Zainal penggemar Didi ? Stasiun Balapan’ Kempot. Ning Stasiun Balapankowe karu aku.

Tapi begitu pelajaran agama dimulai barulah mereka terbengong-bengong. Kok ada anak SMU yang ngelotok soal agama. Apalagi waktu giliran azan untuk sholat dzuhur, sama sekali nggak ada yang becus. Adrian Smith yang vokalis band alternatif di sekolah nyobain azan. Eh, langgamnya malah kayak reffrain lagu Crawlin-nya Linkin Park. Begitu Zainal yang azan, semua terkesima. Indah. Begitu beres azan Adrian langsung ngedeketin Zainal. “Eh suara bagus begitu sayang kalo nggak dimanfaatin. Mau nggak nanti duet bareng nyanyiin lagu Really Doesn’t Matter-nya Linkin Park untuk pentas seni sekolah?” Terang aja Zainal menolak berat meski Adrian maksa-maksa. Soalnya grup bandnya lagi nawarin demo album ke para produser dengan lagu andalannya Rise and Fall, yang merupakan adaptasi dari lagu dangdut Jatuh Bangun-nya Christina.

ooOoo

Nah, soal agama itu yang akhirnya mempertemukan Zainal dengan Wina. Karena sama-sama aktif di rohis, keduanya didaulat untuk jadi pengurus pengajian putra dan putri. Kebersamaan itu juga yang akhirnya menimbulkan desas-desus yang nggak sedap didengar. Kaum cowok gerah melihat Zainal dan Wina sering bersama-sama. Mereka nggak rela kalau Wina sampai dimiliki Zainal. Bagi mereka Wina adalah milik bersama (MCK kaliii…). Sementara kaum cewek mencibir Wina yang sok alim tapi ternyata backstreet, pacaran di belakang.

But, keduanya keep silent. Diam. Makanya keduanya dikasih julukan Mulder & Scully, pasangan detektif di serial X-Files yang kompak namun nggak pernah terlibat hubungan asmara.

Meski keduanya diam, tapi pihak luar justru penasaran.Para reporter Cek & Gocek juga KISS (Kisah Siswa Siswi) diturunkan untuk melakukan investigasi soal hubungan keduanya; benerkah sekedar relasi tugas, pertemanan atau skandal asmara. Para paparazi dari ekskul sekolah juga gila-gilaan nyari foto mesra Wina-Zainal, tapi nggak dapet-dapet. Padahal udah bela-belain ngumpet-ngumpet; di tong sampah, di kaleng krupuk, di belakang papan tulis, di atap sekolah malah ada yang pura-pura jadi penjaga kantin sampe dimarahin ibu kantin gara-gara lebih banyak makannya daripada bayarnya. Hasilnya tetapi nihil.

Namun lambat laun Wina dan Zainal nggak tahan juga karena privasi mereka terus-terusan diusik. Apalagi menjaga diri dari fitnah itu sebuah keharusan. Akhirnya mereka merasa perlu melakukan press conference. Di depan kantin sekolah, di lapangan basket.

“Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh,” Wina mengucapkan salam pada teman-temannya yang antusias hadir di lapangan.

“Wa’alaikum salam…” jawab siswa-siswi kompak dibarengi siulan nakal. Mereka masih saja penasaran kenapa Wina dan Zainal duduk berseberangan.

“Teman-teman, kehadiran saya dan Zainal di sini adalah untuk melakukan klarifikasi atas berbagai pembicaraan dan pandangan yang berkembang di seputar hubungan saya dengan Zainal,” Wina memulai pembicaraan. Ehm, ehm, suara anak-anak kompakan berdehem dengan nada C minor. Ada juga yang pake suara dua, tiga sampe empat (vokal group kaliiii…!).

“Ada yang benar dan ada yang keliru tentang pandangan tersebut. Sekarang saya sampaikan dengan sebenar-benarnya bahwa selama ini hubungan saya dengan Zainal adalah …”

Hubungan gelap,”

Backstreet,”

Asmara,

Audiens pun menjadi riuh rendah mirip pasar malam oleh teriakan-teriakan anak-anak yang penasaran. Wina mencoba menenangkan diri.

“Saya minta teman-teman untuk tenang,” ujar Zainal. Anak-anak pun terdiam.

“Saya tegaskan bahwa hubungan saya dengan Zainal adalah hubungan tugas saja, sama sekali tidak ada hubungan spesial. Sama seperti hubungan saya dengan seluruh teman-teman saya, tidak ada satu pun hubungan yang aneh apalagi kalau pacaran, na’udzubillah.”

“Kenapa Anda tidak berpacaran?” wartawan KISS memotong dengan pertanyaan.

“Karena saya meyakini kalau pacaran itu mendekati zina, dan saya juga menghimbau semua kawan-kawan saya untuk tidak berbuat seperti itu,” jawab Wina.

“Kenapa? Apa Anda takut married by accident gara-gara pacaran?” wartawan sekolah masih penasaran.

“Saya memilih tidak pacaran karena sekali lagi agama kita melarang untuk mendekati zina. Pacaran itukan mendekati zina,” giliran Zainal yang menjawab.

“Sok suci.”

“Sok alim.”

“Jangan munafik”

Kembali anak-anak riuh rendah oleh teriakan yang susul menyusul. Zainal menelan ludah untuk menahan emosi.

“Terserah apa kata kalian. Bagi saya kalau melanggar aturan Allah itu justru namanya munafik. Lagi pula bukankah agama kita mengajarkan kesucian diri?” jawab Zainal diplomatis.

Anak-anak mendengung persis mirip tawon.

“Jadi bener kalian tidak pacaran?” wartawan gosip masih penasaran.

“Tidak. Titik,” jawab Wina.

Pertemuan pun bubar setelah pasangan Mulder & Scully, eh Wina dan Zainal ini turun dari panggung. Anak-anak juga serentak bubar. Sebagian masih menyiratkan tanda tak puas, sebagian lagi keheranan kenapa kok pacaran itu dilarang, sebagian merasa puas apalagi setelah kebagian snack. Lumayan buat perbaikan gizi, pikir mereka.

Seminggu setelah itu Wina mengundurkan diri dari jabatan rohis dengan alasan untuk menghindari gosip. Ia lebih banyak aktif mengajak kawan-kawannya mengaji di luar sekolah. Sementara Zainal masih aktif menjadi rohis sampai masa jabatannya berakhir. Dan yang menggembirakan, makin banyak saja pasangan yang menyatakan putus dengan pacarnya dengan alasan menghindari zina.[]

[buat mas enur, jazakallah khairan buat ?inspirasi’nya]

diambil dari Majalah Permata edisi 02/Tahun 7/Juni 2002

Sumber: gaulislam.com

Advertisements

About Revandry

Hidup adalah perjuangan, Apapun yang terjadi dalam hidupmu, jangan menyerah dan jangan pernah menyerah.

Posted on 7 December 2011, in Life. Bookmark the permalink. Leave a comment.

Menurutmu... gimanaaa....???

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: