Kapur di Papan Tulis Hidupku

“Nee kakak, hidup itu apa?” Adik kelas yang satu ini terus menerusku memberondongku dengan pertanyaan-pertanyaan tingkat tinggi.
“Hmm, hidup ya, hidup itu ya tidur makan berangkat sekolah pulang makan belajar lalu tidur dan seterusnya, hahaha gimana?”
Dia cemberut.
“Bagaimana kalau hidup itu…, ketika nafas masih ada di paru-paru,jantung masih berdetak, aktivitas jaringan neuron di otak masih jalan, dan metabolisme dalam mitokondria berjalan lancar.”
Dia menghela nafas, mengubah posisi duduknya, menyangga dagunya dengan tangan kirinya, “Apa tidak bisa lebih serius?”

Kulihat dia nampak mulai kesal.

Aku pun ulai serius,”Bagiku sendiri, kehidupan yang kujalani hanya diiisi dengan penyesalan-penyesalan yang terus berualang. Seraya menahan, menyembunyikan sendiri dari orang lain, lalu menjalani hari-hari di mana kita terpaksa menerima kenyataan kalau tidak bisa meuwujudkan satu per satu keinginan. Kalau seandainya diberi pilihan, entah perjanjian apa yang dilakukan aku dulu saat sebelum lahir, aku tidak ingin hidup tapi aku sudah hidup sampai selama ini. Mau tidak mau aku harus menjalaninya, apa itu menyakitkan, apa itu menyebalkan, apa hanya keputusasaan, apa hanya sesuatu yang menyedihkan. Asalkan kita bisa menerimanya, asalkan percaya hari esok masih ada, juga masa depan yang cerah menanti.”
Ah, kata-kataku terlalu suram, panjang dan membosankan. Tidak ada yang mengerti.
Aku melihatnya.
Dia terdiam heran.
“Kau baik-baik saja”, kataku.
“Kakak, aku juga berpikiran begitu, kita sama.” Dia berjongkok maju ke arahku dengan antusias.
“Kau?” Aku heran.
Pandangan yang suramku akan hidup yang bila aku berani mengatakan ke teman sekelasku pasti mereka akan mengatakan, suram, bodoh dan sebangsanya. Tapi dia malah begitu tertarik.
“Bagaimana bisa aku dan kakak berpikiran sama ya, jadi, kalau begitu, maukah kakak terus bersamaku, bukankah jalan pikiran kita sama, tentu pasti lebih mudah akrab,menyatukan banyak ide, berteman selamanya, menjalani hidup bersama selamanya.”

“Apa maksudmu kau nembak aku?”

“Eh…, bukan maksudku begitu tapi emmm, ah begitulah pokoknya kita berteman akrab”

“Hei adik kelas, meski pandanganku sesuram ini, tapi aku yakin suatu saat aku menjalani kehidupan terang benderang di mana aku bisa hidup seperti kebanyakan orang”

“Kenapa kakak bilang begitu? Aku lebih kakak yang sekarang, karena di mataku kakak terlihat spesial. Kenapa kakak ingin menjadi orang biasa?”

“Bukan bearti aku ingin menjadi orang biasa. Ada hal yang ingin aku lakukan. Aku ingin menjadi seseorang yang menjadi cahaya bagi orang lain.”
“Hei, adik kelas, prestasi apa yang paling membuatmu bangga?”

“Tidak ada. Mungkin.”

“Ayolah, misalnya kau berusaha semalam belajar cara mengerjakan suatu soal, dan besok ulangan. Lalu esok harinya kau bisa mengerjakan soal tersebut meski pada akhirnya soal yang lain tidak bis akaukerjakan dan nilaimu menjadi jelek.”

“Kalau yang seperti ada.” “Tapi lebih baik tak mengingatnya.”

Ini adalah awal pembuka cerita. Kalau saja aku tidak menanyakan hal itu, pasti semua tak kan jadi begini.
Adik kelas, apa cemburu padaku? Atau lebih tepatnya apa kau kecewa padaku?

Advertisements

About Revandry

Hidup adalah perjuangan, Apapun yang terjadi dalam hidupmu, jangan menyerah dan jangan pernah menyerah.

Posted on 25 January 2015, in Life. Bookmark the permalink. Leave a comment.

Menurutmu... gimanaaa....???

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: