Terakhir ya

Ne, An. Boleh jadi ini adalah ramadhanmu yang terakhir … di tempat ini.
Karena itu,
kumohon buatlah berbeda, buatlah berkesan
Kau tak ingin ramadhan ini berakhir dengan begitu saja kan
Tanpa menyelesaikan apa yang dahulu kau mulai
Kamu masih ingat kan, apa yang dulu pernah kau inginkan untuk kau raih
Ataukah
Kamu ingin ia pergi dengan begitu saja
Kamu tidak punya banyak waktu lagi

Kau ingin berada di tempat itu, suatu tempat yang tinggi
Kamu sudah mulai melangkahkan kakimu
Meski itu hanyalah langkah laki pertamamu
Dan kamu melihat di depan sana, nampak mereka telah berjalan jauh

Yang terakhir, selanjutnya mungkin tak kan bertemu kembali
Kamu akan pergi jauh, bukankah itu yang selama ini kamu inginkan?
Karena itulah
Sampaikan apa yang ingin kaukatakan
lakukan apa yang ingin kaulakukan
Karena semua ini akan menjadi kenangan yang akan kau ingat di masa depanmu nanti

Atau, kau akan menyesalinya selamanya
Suaramu tidak bisa menggapai langit, padahal dulu langit itu sudah pernah kau datangi
Angin akan membawa arti kata-kata dan impianmu mengambang terapung bebas di awan
Biarkan kenangan kita hanya kita berdua yang mengingatnya

Sambil mengepallkan tangan, kita mengadu kepalan tangan kita di jalan itu
Kata yang tak terucap, melangkah dengan pandangan ke depan
Kita pasti meraihnya
Itulah kenapa kau masih di sini, menyelesaikan apa yang pernah kau janjikan padaku

Dunia terus berputar, kita tak lagi di tempat yang sama
Tapi kita masih sama-sama berada di dunia,
jarak sejauh apapun, dan sekarang kita menagih janji itu

Aku, kau dan dia, tanpa kata.
Selamat jalan, selamat tinggal, diriku.

Advertisements

Amrite

Teori [eh bukan] yan pernah kutulis sekitar tahun 2012an adalah : Diriku di masa depan sedang mengenang kembali saat-saat sekarang ini, lalu bergumam. “ah, love is in the air, youth is bitter-sweet.”
Sedang diriku yang berada di garis dunia yang lain sedang bergumam jalan ini yang dulu [saat ini] kupilih telah membuat ending ke arah ini.

Terimakasih banyak.

Kita dipertemukan oleh-NYA.

Bertemu bukanlah untuk berpisah.
Perpisahan adalah kepastian.
Apapun cara yang kaulakukan tetap tak bisa merubah kepastian ini.

Tapi masih ada pilihan, agar kisah ini tak berakhir seperti ini.

Waktu itu kita terus berjalan, tanpa butuh alasan mengapa kita terus berjalan.
Kita akan terus bersama, tidak ada yang perlu dikhawatirkan.

Kamu sedari awal tahu, kalau saat-saat ini tak bisa selamanya. Semua ini akan berakhir.
Tapi kamu lebih suka menyembunyikan dariku. Semua itu kamu lakukan demi diriku.

Lalu, saat hari itu tiba, kau tanpa peduli, tanpa berkata apapun, meninggalkan semua ini.
Karna bila mengatakanya, tentu semua akan berantakan.
Dengan tanpa mengatakanya, semua perlajan mulai berunah. Kamu lebih memilih dibenci semuanya, sambil berjalan meraih kebahagiaanmu sendiri.

Akhirnya…
Kita bisa bertemu kembali.
Meski kita masing-masing telah berubah.
Kita tidak bisa bercanda seperti hari itu.
Kita tidak bisa kembali mengulang masa-masa bahagia kita.

Tapi kita yakin, pda apa yang kita pilih masing-masing, sambil meyakinkan diri sendiri, semua akan baik-baik saja.

Apakabar

Berapa banyak hari yang telah kulewati bersamamu
Saat bedrdiri di depan kelas sambil menjelaskan hal-hal baru
Suaramu, senyummu, gerakanmu dan sosokmu begitu cerah
Tak pernah terbayangkan sebelumnya, bertemu denganmu

Aku sudah ta tahu lagi ke mana aku melangkah
Aku tak punya apa yang selama ini kubanggakan
Aku hanyalah manusia yang berselimutkan hitamnya dosa
Setiap harinya diriku hanya menumpuk dan terus menumpuk kesalahan
Lebih baik dunia berakhir sekarang
Aku tak mau menderita lebih dari ini
Sudah cukup, aku tak ingin melihat apapun lagi
Ats semua yang kukatakan, atas semua yang kurasakan
Yang kaukatakan hanyalah “Jangan khawatir, sekarang sudah tak apa-apa”
“Kau bisa membuka matamu,”Jika kau takut kau cukup terus berjalan”
“Jika kau tersesat, Akan kutujukan padamu arahnya”
“Karena itu sudah menjadi tugasku”

Itulah hari di mana kumenemukan cahaya kembali
Lalu kuberusaha bangkit dan mengejar cahaya itu

Hari-hari yang kujalani bersamamu bagaikan mimpi
Singkat, begitu indah dan bersinar, berharap ku terus dalam mimpi itu
Bisa bertemu denganmu di saat-saat ku hampa adalah suatu anugerah
Bisa melihatmu tertawa adalah suatu yang kudambakan
Bisa berbicara denganmu ku sungguh senang

Aku sudah lama menantikan seseorang sepertimu dalam hidupku
Aku sudah lama menanti seseorang berkata seperti itu padaku

Karena selama ini aku hanya terus menunggu dan terus menunggu
Aku sudah tak ingin menjadi apa-apa ataupun siapa

Nee… sensei
Sekarang saatnya mengucapkan perpisahan
Aku sudah menemukan apa yang kuinginkan
Mesli aku tak begitu yakin itu apa
Tapi aku percaya itu tak apa-apa
Aku sekarang tak lagi menunggu
Aku sekarang akan mengejar apa yang kuinginkan
Tentu, aku ingin menjadi seorang sepertimu, setingkat dengamu

Terakhir kalinya
Ada ingin yang kukatakan padamu
Aku sudah lama ingin mengatakan seak dulu
Hingga sekarang aku masih menahanya
Sekarang kukatakan padamu, apapun jawabnya
“Sensei, terimakasih atas selama ini”
“Tapi Maaf”
“Aku tidak bisa menjadi sosok yang bisa kaubanggakan”
“Aku sekarang hanyalah manusia biasa”
“Jadi, selamat jalan, sensei”

Dari Sini

Hari hari berlalu, datang dan pergi
Detik yang terus berputar
Kalender yang berganti

“I’m no longer available for you”
Orang-orang yang datang dan pergi
keluar masuk hati ini
Silih berganti

“Kelak, aku akan pergi meninggalkanmu”
Dan kau tanpa aku
kau akan menjalani hidup berbeda dengan hari ini
Aku akan tetap mengingatmu

Apa yanga akan terus bersamamu,
Kalau tidak tahu, tanyalah pada dirimu, lalu carilah
Jika sudah kaudapat, genggamlah
Aku tak bisa terus menemanimu, maaf

Senpai,
Apakah ada cara agar aku bisa sedikit lebih dekat denganmu
Aku ingin bisa bersamamu lebih lama
Menghabiskan sisa waktuku ini

sejak awal aku sudah tahu
Kamu lebih mencintainya dibanding diriku
Karna itulah aku ingin menjadi orang sepertinya
lambat laun aku mulai menyadari apa yang membuatmu suka padanya
Aku pun tertawa, sudah terlambat

Aku yang sekarang bukanlah aku yang dulu
Aku yang sekarang tidak bisa membaca dengan cepat seperti dulu
Tapi aku yang sekarang lebih banyak tahu
dunia ini begitu luas

Bahakan seandainya kau telah meimilih menjalin hubungan denganya
Bukankah kita masih bisa berbicara seperti biasanya?
Akankah kau masih mau mendengarkan ceritaku?
Satu-satunya orang yang menegtahui rahasiaku, hanya kau saja senpai

pada siapa aku harus menceritakan kisah ini
Kemana lagi aku harus membawanya?
berapa lama aku terus membawanya?

Pada akhirnya perasaan sekuat apapun akan pudar sebanding dengan berjalanya waktu

Ingatanku tentangmu mulai terlupa
Tidak
aku tidak mau itu terjadi
tapi tetap saja terjadi
Setelah dewasa, hal-hal yang ingin kulakukan terpaksa tak bisa kulakukan
juga kuterpaksa melakukan hal-hal yang tak ingin kulakukan
Kebabasan itu tak ada

Sungguh menyenangkan menghabiskan waktu bersama dengan orang-orang yang kita sayangi.
Sambil berpikir, andai saat-saat seperti ini berlangsung selamanya

Hidup adalah setengah sedih dan setengah bahagia
Semuanya singkat, bahagia singkat, sedih singkat, kecewa singkat, percaya singkat, khianat singkat, jatuh cinta singkat, benci singkat
Tapi … akankah semuanya akan berlalu begitu saja
Tanpa pernah berisi makna

satu hal yang belum kusampaikan padamu senpai
Siapa diriku yang sebenarnya?
kau belum juga tahu
meski aku juga tak mengerti siapa diriku sekarang
Seolah aku berada dalam tubuh seseorang yang bukan milkku dan aku berperan menjadi dirinya

Senpai, kemarin aku bertemu dengan sensei
Aku berusaha memberitahunya akan sesuatu
tapi dia menolak
Dia hanya berkata
“Aku hanya tanya kabarmu, itu saja”
Tahukah senpai
Saat dia berkata begitu aku sungguh ingin menangis
Masih ada orang begitu baik padaku setelah aku bukan siapa-siapa

Karna itulah aku bisa terus berjalan sampai sejauh ini
Nee senpai, aku sekarang bukan siapa-siapa
juga kehilangan banyak hal
Apakah kau masih bisa berbicara seperti dulu lagi?

Saat kau bicara “Serahkan padaku” “Kau pasi bisa” “Tenang, seperti itu mudah”

Senpai, kini kau sudah tak ada di kota ini
Apakah kau sudah menemukan yang kau cari?

Aku masih percaya kalau impian kita bisa terwujud di kota ini

:dari adik kelasmu:

Kapur di Papan Tulis Hidupku

“Nee kakak, hidup itu apa?” Adik kelas yang satu ini terus menerusku memberondongku dengan pertanyaan-pertanyaan tingkat tinggi.
“Hmm, hidup ya, hidup itu ya tidur makan berangkat sekolah pulang makan belajar lalu tidur dan seterusnya, hahaha gimana?”
Dia cemberut.
“Bagaimana kalau hidup itu…, ketika nafas masih ada di paru-paru,jantung masih berdetak, aktivitas jaringan neuron di otak masih jalan, dan metabolisme dalam mitokondria berjalan lancar.”
Dia menghela nafas, mengubah posisi duduknya, menyangga dagunya dengan tangan kirinya, “Apa tidak bisa lebih serius?”

Kulihat dia nampak mulai kesal.

Aku pun ulai serius,”Bagiku sendiri, kehidupan yang kujalani hanya diiisi dengan penyesalan-penyesalan yang terus berualang. Seraya menahan, menyembunyikan sendiri dari orang lain, lalu menjalani hari-hari di mana kita terpaksa menerima kenyataan kalau tidak bisa meuwujudkan satu per satu keinginan. Kalau seandainya diberi pilihan, entah perjanjian apa yang dilakukan aku dulu saat sebelum lahir, aku tidak ingin hidup tapi aku sudah hidup sampai selama ini. Mau tidak mau aku harus menjalaninya, apa itu menyakitkan, apa itu menyebalkan, apa hanya keputusasaan, apa hanya sesuatu yang menyedihkan. Asalkan kita bisa menerimanya, asalkan percaya hari esok masih ada, juga masa depan yang cerah menanti.”
Ah, kata-kataku terlalu suram, panjang dan membosankan. Tidak ada yang mengerti.
Aku melihatnya.
Dia terdiam heran.
“Kau baik-baik saja”, kataku.
“Kakak, aku juga berpikiran begitu, kita sama.” Dia berjongkok maju ke arahku dengan antusias.
“Kau?” Aku heran.
Pandangan yang suramku akan hidup yang bila aku berani mengatakan ke teman sekelasku pasti mereka akan mengatakan, suram, bodoh dan sebangsanya. Tapi dia malah begitu tertarik.
“Bagaimana bisa aku dan kakak berpikiran sama ya, jadi, kalau begitu, maukah kakak terus bersamaku, bukankah jalan pikiran kita sama, tentu pasti lebih mudah akrab,menyatukan banyak ide, berteman selamanya, menjalani hidup bersama selamanya.”

“Apa maksudmu kau nembak aku?”

“Eh…, bukan maksudku begitu tapi emmm, ah begitulah pokoknya kita berteman akrab”

“Hei adik kelas, meski pandanganku sesuram ini, tapi aku yakin suatu saat aku menjalani kehidupan terang benderang di mana aku bisa hidup seperti kebanyakan orang”

“Kenapa kakak bilang begitu? Aku lebih kakak yang sekarang, karena di mataku kakak terlihat spesial. Kenapa kakak ingin menjadi orang biasa?”

“Bukan bearti aku ingin menjadi orang biasa. Ada hal yang ingin aku lakukan. Aku ingin menjadi seseorang yang menjadi cahaya bagi orang lain.”
“Hei, adik kelas, prestasi apa yang paling membuatmu bangga?”

“Tidak ada. Mungkin.”

“Ayolah, misalnya kau berusaha semalam belajar cara mengerjakan suatu soal, dan besok ulangan. Lalu esok harinya kau bisa mengerjakan soal tersebut meski pada akhirnya soal yang lain tidak bis akaukerjakan dan nilaimu menjadi jelek.”

“Kalau yang seperti ada.” “Tapi lebih baik tak mengingatnya.”

Ini adalah awal pembuka cerita. Kalau saja aku tidak menanyakan hal itu, pasti semua tak kan jadi begini.
Adik kelas, apa cemburu padaku? Atau lebih tepatnya apa kau kecewa padaku?

%d bloggers like this: