Category Archives: Seminar Fisika

Seminar Fisika : MOSFET

Muhammad Rifqi Nugroho, TRANSISTOR EFEK MEDAN JENIS MOSFET, Seminar Fisika. Surakarta: Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Sebelas Maret Surakarta, Juni 2011.

 

Penulisan Makalah Seminar Fisika ini bertujuan untuk mengetahui : (1) Perbedaan watak Transistor Bipolar dan Efek Medan. (2) Perbedaan watak Transistor JFET dan MOSFET. (3) Menyusun/ menghubung bias Transistor MOSFET. (4) Aplikasi Transistor MOSFET

Penulisan Makalah Seminar ini menggunakan metode kajian pustaka dari berbagai sumber buku, internet atau referensi yang relevan.

Berdasarkan pembahasan dapat ditarik kesimpulan sebagai berikut :

  1. Transistor Bipolar merupakan alat dengan tiga terminal yaitu emitor basis dan kolektor yang terbuat dari bahan semi konduktor jenis p dan n. Transistor Bipolar bekerja berdasarkan arus inputnya. Transistor efek–medan (FET) adalah transistor yang menggunakan medan listrik untuk mengendalikan konduktifitas suatu kanal dari jenis pembawa muatan tunggal dalam bahan semikonduktor. Transistor Efek Medan bekerja berdasarkan tegangan inputnya Transistor Efek Medan (FET) dibagi menjadi dua jenis yaitu Junction FET (JFET) dan Metal Oxide Silicon (atau Semiconductor) FET (MOSFET).
  2. Watak Transistor JFET adalah Operasi pada JFET berdasarkan pada pengubahan lebar kanal untuk mengendalikan arus drain pada saat tegangan VDS diberikan pada drain dan source. Jika lebar kanal mengecil, maka resistansi kanal bertambah dan arus drain mengecil. Watak Transistor MOSFET adalah berdasarkan pada modulasi konsentrasi muatan di antara elektroda badan dan elektroda gerbang yang di isolasikan dari semua daerah peranti dengan sebuah lapisan dielektrik gerbang yang terbuat dari oksida.
  3. Bias pada Transistor MOSFET depletion-mode dapat dilakukan dengan dua cara yaitu ; (1) Ragam pengosongan, yaitu dengan memberikan tegangan panjar mundur (negatif) pada gerbang. (2) Ragam peningkatan, yaitu dengan memberikan tegangan panjar maju (positif) pada gerbang. Bias pada Transistor MOSFET enhancement-mode dapat dilakukan dengan cara ragam peningkatan, yaitu dengan memberikan tegangan panjar maju (positif) pada gerbang.
  4. Aplikasi MOSFET Tipe-Pengosongan (depletion-mode) adalah penguat kaskode. Aplikasi MOSFET Tipe-Peningkatan (enhancement-mode) adalah Penguat Mencuplik Dan Menahan (Sample-And-Hold Amplifier), Beban Aktif, Pembalik CMOS (CMOS Inverter)

Download atau TFS <– (password:rifqinugroho)

Seminar Fisika : Fungsi Green Sebagai Salah Satu Penyelesaian Persamaan Poisson

ABSTRAK

 

Ana Yuniasti Retno Wulandari, FUNGSI GREEN SEBAGAI SALAH SATU PENYELESAIAN PERSAMAAN POISSON. Seminar Fisika. Surakarta: Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Sebelas Maret, Juli 2010.

 

Tujuan penulisan Makalah Seminar Fisika ini adalah untuk: (1) Menjelaskan bentuk persamaan Poisson. (2) Menjelaskan bentuk fungsi Green pada persamaan Poisson. (3) Menentukan penyelesaian persamaan Poisson dengan fungsi Green pada bidang tak hingga, bidang semi tak hingga, dan pada lingkaran. (4) Menentukan penyelesaian persamaan Poisson dalam elektrostatika dengan fungsi Green.

Penulisan Makalah Seminar Fisika menggunakan metode kajian pustaka dari berbagai sumber atau referensi yang relevan. Banyak masalah dalam bidang Fisika yang dapat diselesaikan apabila terlebih dahulu diformulasikan ke dalam model matematika, misalnya ke dalam persamaan diferensial parsial. Persamaan diferensial parsial yang sering digunakan dalam matematika terapan adalah persamaan Poisson. Salah satu contoh permasalahan Fisika yang dapat diformulasikan secara matematis ke dalam persamaan diferensial parsial adalah persamaan Poisson dalam elektrostatika. Ada beberapa metode yang dapat digunakan untuk menyelesaikan persamaan Poisson, salah satunya adalah menggunakan metode fungsi Green.

Download : MAKALAH BAB 1, 2 & 3_ANA   (file besar 50 MB)!!!!!!!!!!!!! atau alternatif download (yg ini cm berpa kb kok)

 

Seminar Fisika : Difraksi Fraunhofer dan Aplikasinya

PENDAHULUAN

  1. Latar Belakang Masalah

Pada hakikatnya cahaya merupakan gelombang elektromagnetik yang merambat dengan kecepatan . Gelombang cahaya mempunyai frekuensi antara . Panjang gelombang dan frekuensi akan menentukan warna cahaya.

Perpaduan cahaya dapat mengakibatkan terjadinya interferensi dan difraksi. Difraksi ada dua yaitu difraksi Fraunhofer dan difraksi Fresnel. Difraksi atau lenturan merupakan peristiwa pelenturan gelombang cahaya pada rintangan yang berupa celah sempit. Supaya terjadi difraksi cahaya, maka celah sempit itu harus seorde dengan panjang gelombang cahaya.

Dalam makalah ini yang akan dibahas adalah difraksi Fraunhofer karena memiliki ciri khas yaitu bahwa sinar-sinar yang datang sejajar dan pola difraksi diamati pada jarak yang cukup jauh sehingga secara efektif yang diterima adalah sinar-sinar terdifraksi yang sejajar. Inilah yang membedakan difraksi Fraunhofer dan difraksi Fresnel.

Gejala difraksi pertama kali diungkapkan oleh Francesco Grimaldi (1618-1663), dan dijelaskan dengan tepat oleh Agustian Fresnel (1788-1827), sehingga dikenal dengan difraksi Fresnel. Percobaan Fresnel disederhanakan oleh Fraunhofer sehingga dikenal dengan difraksi Fraunhofer. Tanpa kita sadari dalam kehidupan sehari-hari terdapat alat yang berprinsip pada difraksi Fraunhofer. Oleh karena itu, penulis menyusun makalah dengan judul “Diftaksi Fraunhofer dan Aplikasinya”. Read the rest of this entry

Seminar Fisika Termolistrik

BAB I

PENDAHULUAN

  1. LATAR BELAKANG MASALAH

Pada tahun 2020 mendatang diperkirakan kebutuhan energi akan bertambah sekitar 40% dari kebutuhan saat ini. Teknologi termoelektrik atau sering disebut termolistrik, merupakan sumber alternatif utama dalam menjawab kebutuhan energi tersebut. Di samping relatif lebih aman terhadap lingkunan, teknologi ini juga sangat efisien, tahan lama, dan mampu menghasilkan energi dalam skala besar dan kecil. (Edi Sukur: www.kompas.com/kompas-cetak/0408/07/ilpeng/1193270.htm)

Pertumbuhan manusia dan teknologi yang pesat akhir-akhir ini menuntut tersedianya energi dalam skala yang besar pula. Sekarang ini telah banyak berkembang teknologi yang memanfaatkan suhu sebagai sumber energi. Voyager I dan II adalah contoh pesawat ruang ankasa yang memanfaatkan teknologi termoelektrik. Voyager diterbangkan NASA tahun 1977 ini dirancang khusus untuk terbang menjauhi tata surya sehingga solar cell tidak dapat digunakan. Dalam menempuh perjalanan yang tak terbatas itu diperlukan pula energi yang besar dan stabil untuk mengirimkan data ke bumi. Untuk itulah Voyager menggunalan teknologi termoelektrik dengan plutonium-238 sebaga sumber panasnya (Radioisotop Thermoelectric Generators-RTGs) Sistem ini mampu membangkitkan listrik sebesar 400 W serta secara kontinu dan tanpa perawatan apa pun, Voyager tetap dapat mengirimkan data walau sudah terbang selama 30 tahun.

Tahun 1821, seorang fisikawan Estonia bernama Thomas Johann Seebeck menemukan bahwa saat sebuah konduktor (seperi logam) diberi perlakuan panas secara gradien, maka akan menghasilkan tegangan listrik. Inilah yang disebut efek termoelektrik. Semua usaha untuk mengukur tegangan ini perlu melibatkan hubungan konduktor lain ke ujung benda panas. Konduktor tambahan ini kemudian juga akan mengalami gradiasi suhu dan penambahan tegangan secara berkebalikan dengan benda asli. Besar efek ini tergantung logam yang dipakai. Menggunakan logam yang berbeda untuk melengkapi sirkuit akan menghasilkan tegangan yang berbeda, meninggalkan perbedaan kecil tegangan memungkinkan kita melakukan pengukuran, yang bertambah sesuai temperatur. Perbedaan ini umumnya berkisar antara 1 hingga 70 microvolt tiap derajad celcius untuk kisaran yang dihasilkan kombinasi logam modern. Beberapa kombinasi menjadi populer sebagai standar industri, dilihat dari biaya, ketersediaanya, kemudahan, titik lebur, kemampuan kimia, stabilitas, dan hasil.

Penemuan Seebeck ini memberikan inspirasi pada Jean Charles Peltier untuk melihat kebalikan dari fenomena tersebut. Dia mengalirkan listrik pada dua buah logam yang direkatkan dalam sebuah rangkaian. Ketika arus listrik dialirkan, terjadi penyerapan panas pada sambungan kedua logam tersebut dan pelepasan panas pada sambungan yang lainnya. Pelepasan dan penyerapan panas ini saling berbalik begitu arah arus dibalik. Penemuan yang terjadi pada tahun 1934 ini kemudian dikenal dengan efek Peltier. Efek Seebeck dan Peltier inilah yang kemudian menjadi dasar pengembangan teknologi termoelektrik. Read the rest of this entry

Seminar Fisika, Transfer Panas Satu Dimensi Pada Keadaan Tunak

buat referensi teman teman tentang Seminar Fisika:

ABSTRAK

JAROT DWI WIBOWO. TRANSFER PANAS SATU DIMENSI PADA KEADAAN TUNAK. Seminar Fisika, Surakarta: Fakultas Keguruan Dan Ilmu Pendidikan, Universitas Sebelas Maret, September 2007. Penulisan makalah ini bertujuan untuk :

  1. Mengetahui solusi dari persamaan transfer panas satu dimensi  pada keadaan tunak.
  2. Mengetahui aplikasi dari persamaan tranfer panas satu dimensi dalam keadaan tunak tanpa pembangkit kalor pada silinder panjang berongga.
  3. Mengetahui aplikasi dari persamaan transfer panas satu dimensi dalam keadaan tunak dengan sumber kalor pada silinder dan dinding datar.

Solusi sederhana dari persamaan transfer panas satu dimensi pada keadaan tunak dapat dianalisis dengan penerapan persamaan dasar dari volume kontrol diferensial dengan pengembangan metode hukum pertama termodinamika

Aplikasi persamaan umum dari  panas satu dimensi dalam keadaan tunak ada dua macam yaitu :

a. Transfer panas satu dimensi dalam keadaan tunak tanpa pembangkit kalor pada silinder panjang berongga dan bola berongga.

b. Transfer panas satu dimensi dalam keadaan tunak dengan sumber kalor pada dinding datar dan silinder.

Dari pembahasan yang telah dipaparkan, maka penulis dapat menarik beberapa kesimpulan yang dapat dianggap penting, antara lain:

  1. Solusi sederhana dari persamaan transfer panas satu dimensi pada keadaan tunak dapat dianalisis dengan menerapan persamaan dasar dari volume kontrol diferensial dengan pengembangan metode hukum pertama termodinamika.
  1. Rumusan persamaan umum dari transfer panas satu dimensi pada keadaan tunak
  1. Rumusan persamaan umum dari transfer panas satu dimensi pada keadaan tunak dapat digunakan untuk medium konduksi tidak mengandung sumber panas dan medium konduksi yang mengandung sumber panas.
    1. Jika medium konduksi tidak mengandung sumber panas, maka persamaan umum dari transfer panas satu dimensi pada keadaan tunak tereduksi menjadi persamaan medan Fourier.

Yang kadang-kadang disebut sebagai hukum kedua Fourier tentang konduksi panas.

Untuk kasus distibusi temperatur harus memenuhi persamaan Laplace yang telah direduksi.

  1. Jika suatu sistem dimana sumber panas ada tetapi tidak ada perubahan waktu (tunak) maka persamaan umum dari transfer panas satu dimensi pada keadaan tunak akan tereduksi menjadi persamaan poisson.

Silahkan download 1/1 cover seminar, ABSTRAK, pengesahan, BAB I DAN II, BAB III, rangkuman Klo mo semua disini

 

%d bloggers like this: