June lvl 1

Di bawah langit bulan ini, aku termenung sendiri.
Pintu keajaiban itu telah terbuka, selanjutnya mana arah yang akan kaulangkahkan
Di bawah teriknya, panasnya matahari bulan ini
Mencari jawabnya tapi jawabanya hanya beterbangan tanpa arah

Sejak kapankah
Sejak awal jawabnya.
Kita tidak bisa bersama

Langit bulan ini begitu biru
Awan begitu putih, menggantung tinggi di langit
Dunia kita membentang luas ke depan
Masa depan tak pernah pasti, karena itu tak perlu dikhawatirkan

Semua kisah ini telah berakhir
Tirai-tirai ditutup
Latar panggng yang sepi
Kursi-kursi penonton yang berserakan dengan sampah-sampah

Anak panah yang dilepas tanpa pernah kembali
Anchor yang sudah diangkat
Kemudi yang mulai diputar
Dua dunia telah saling memisahkan diri

Sisa-sisa Hujan’10

Ketika hujan turun, kupanjatkan doa
doa yang pernah kau panjatkan
kini sedang kupanjatkan
kau tak pernah mengajariku tapi aku belajar darimu

hari itu di akhir musim gugur
Kala kita masih berada di sekolah yang sama
sejak awal kita hanya saling mengenal
Di perpustakkaan itu kita berulang kali bertemu
Kenangan yang kita buat bersama kawan-kawan
Sebuah kenangan indah di saat-saat sulit
Kau membantuku mengerjakan tugas
Pada awalnya aku malu-malu minta bantuanmu

Hari-hari berlalu
Ini adalah bulan terakhir di sekolah ini
Desember, ku berharap ada keajaiban
Tapi keajaiban ada karena kita buat
jadi, keajaiban itu tak ernah datang

Bahkan saat terakhir kalinya kita di tempat ini
Aku tetap mengagumimu
Tapi, rasa ini tak pernah sampai
Tidak
Tapi tak pernah kusampaikan
Kuhanya berjalan memutar dan terus berputar

Aku sudah jatuh hati padamu
Sejak hujan mulai turun di tahun ini
Karena kau yang pertama kali
membuatku tahu doa saat hujan turun
saat hujan turun, aku pun berdoa lagi
dengan doa yang pernah kau panjatkan
saat itu pula aku kembali ingat dirimu

You teach me

Kala petir bersenandung
Awan melukis langit
Hujan turun ke bumi
membasahi tubuh yang telah kotor ini
Saat itulah …
Aku bertemu denganmu
dan kau menyelematkanku di hari itu

Pertemuan pertama kita bukanlah pertemuan yang berkesan
Hanya sekedar saling mengenal dilanjutkan keseharian masing-masing
Waktu berlalu
Bahkan sedikitpun aku tak pernah memalingkan wajahku padamu
Hingga hari itu tiba

Suatu saat nanti, ku harap, aku bisa kembali ke tempat itu
dan kembali berbicara denganmu

Dari kejauhan ku memandang
Kau pasti akan baik-baik saja
Karena di sekelilingmu, orang-orang akan melindungimu

Sensei, terimakasih
Kita terlahir di generasi yang berbeda
Entah bagaimana ku bisa memandang apa yang kau lakukan di masa lalu
Seseorang yang aku kagumi
Karena itulah
Aku ingin bisa sepertimu
Membantu banyak orang
Sambil berjalan menuju esok

You teach me that all

Kala petir bersenandung
Awan melukis langit
Hujan turun ke bumi
membasahi tubuh yang telah kotor ini
Saat itulah …
Aku ingin bertemu denganmu
seperti masa-masa di hari itu

Terakhir ya

Ne, An. Boleh jadi ini adalah ramadhanmu yang terakhir … di tempat ini.
Karena itu,
kumohon buatlah berbeda, buatlah berkesan
Kau tak ingin ramadhan ini berakhir dengan begitu saja kan
Tanpa menyelesaikan apa yang dahulu kau mulai
Kamu masih ingat kan, apa yang dulu pernah kau inginkan untuk kau raih
Ataukah
Kamu ingin ia pergi dengan begitu saja
Kamu tidak punya banyak waktu lagi

Kau ingin berada di tempat itu, suatu tempat yang tinggi
Kamu sudah mulai melangkahkan kakimu
Meski itu hanyalah langkah laki pertamamu
Dan kamu melihat di depan sana, nampak mereka telah berjalan jauh

Yang terakhir, selanjutnya mungkin tak kan bertemu kembali
Kamu akan pergi jauh, bukankah itu yang selama ini kamu inginkan?
Karena itulah
Sampaikan apa yang ingin kaukatakan
lakukan apa yang ingin kaulakukan
Karena semua ini akan menjadi kenangan yang akan kau ingat di masa depanmu nanti

Atau, kau akan menyesalinya selamanya
Suaramu tidak bisa menggapai langit, padahal dulu langit itu sudah pernah kau datangi
Angin akan membawa arti kata-kata dan impianmu mengambang terapung bebas di awan
Biarkan kenangan kita hanya kita berdua yang mengingatnya

Sambil mengepallkan tangan, kita mengadu kepalan tangan kita di jalan itu
Kata yang tak terucap, melangkah dengan pandangan ke depan
Kita pasti meraihnya
Itulah kenapa kau masih di sini, menyelesaikan apa yang pernah kau janjikan padaku

Dunia terus berputar, kita tak lagi di tempat yang sama
Tapi kita masih sama-sama berada di dunia,
jarak sejauh apapun, dan sekarang kita menagih janji itu

Aku, kau dan dia, tanpa kata.
Selamat jalan, selamat tinggal, diriku.

Amrite

Teori [eh bukan] yan pernah kutulis sekitar tahun 2012an adalah : Diriku di masa depan sedang mengenang kembali saat-saat sekarang ini, lalu bergumam. “ah, love is in the air, youth is bitter-sweet.”
Sedang diriku yang berada di garis dunia yang lain sedang bergumam jalan ini yang dulu [saat ini] kupilih telah membuat ending ke arah ini.

Terimakasih banyak.

Kita dipertemukan oleh-NYA.

Bertemu bukanlah untuk berpisah.
Perpisahan adalah kepastian.
Apapun cara yang kaulakukan tetap tak bisa merubah kepastian ini.

Tapi masih ada pilihan, agar kisah ini tak berakhir seperti ini.

Waktu itu kita terus berjalan, tanpa butuh alasan mengapa kita terus berjalan.
Kita akan terus bersama, tidak ada yang perlu dikhawatirkan.

Kamu sedari awal tahu, kalau saat-saat ini tak bisa selamanya. Semua ini akan berakhir.
Tapi kamu lebih suka menyembunyikan dariku. Semua itu kamu lakukan demi diriku.

Lalu, saat hari itu tiba, kau tanpa peduli, tanpa berkata apapun, meninggalkan semua ini.
Karna bila mengatakanya, tentu semua akan berantakan.
Dengan tanpa mengatakanya, semua perlajan mulai berunah. Kamu lebih memilih dibenci semuanya, sambil berjalan meraih kebahagiaanmu sendiri.

Akhirnya…
Kita bisa bertemu kembali.
Meski kita masing-masing telah berubah.
Kita tidak bisa bercanda seperti hari itu.
Kita tidak bisa kembali mengulang masa-masa bahagia kita.

Tapi kita yakin, pda apa yang kita pilih masing-masing, sambil meyakinkan diri sendiri, semua akan baik-baik saja.

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: